GridKids.id - Saat ini, ada berbagai macam jenis tes untuk mendeteksi virus corona COVID-19. Seperti tes swab antigen, PCR, rapid test, dan ada juga tes serologi.
Kita sudah mengenal tes swab, rapid, dan PCR. Lalu, apa itu tes serologi untuk mendeteksi virus corona?
Tes serologi adalah tes antibodi total yang relatif cepat dan berakurasi tinggi.
Tes ini bisa dilakukan di rumah sakit atau di luar rumah sakit (mobile testing atau onsite/di tempat).
Sama seperti rapid test, tes serologi antibodi ini mendeteksi antibodi seseorang untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi oleh SARS-CoV-2 atau enggak.
Pengerjaan tes serologi antibodi dilakukan oleh instrumen robotik. Hal ini membuat tingkat sensitivitas mencapai 100 persen.
Artinya, hampir enggak ada kasus positif yang enggak terdeteksi.
Selain sensitivitas yang tinggi, keunggulan lain dari tes serologi antibodi ini adalah tingkat spesifisitas lebih dari 99,81 persen dan tanpa gangguan atau cross reaksi dari virus flu biasa dan coronavirus lain selain SARS-CoV-2.
Baca Juga: Apa Itu Swab Antigen untuk Deteksi Virus Corona? Ini Penjelasannya
Sampel yang Diambil
Sampel yang diambil saat dilakukan tes serologi adalah darah pasien.
Setelah itu, sampel akan dimasukkan ke dalam tabung darah untuk dianalisis di laboratorium. Proses tersebut sepenuhnya dilakukan menggunakan instrumen robotik.
Pengambilan sampel darah dan screening pada tes serologi cuma berlangsung selama 18 sampai 20 menit.
Lalu, dilanjutkan dengan proses analisis di laboratorium yang memakan waktu sekitar satu setengah jam.
Tes serologi antibodi ini digunakan untuk menentukan kemungkinan seseorang mendapatkan kekebalan terhadap patogen.
Tubuh manusia membuat antibodi sebagai respons terhadap banyak penyakit.
Dalam situasi pandemi COVID-19 saat ini, tes antibodi diperlukan untuk mendeteksi antibodi terhadap SARS-CoV-2 secara khusus tanpa ada reaktivitas silang dengan virus corona serupa lainnya atau virus influenza yang biasa.
Sebab, hal itu bisa menghasilkan hasil positif palsu dan dengan demikian secara keliru menunjukkan potensi kekebalan.
Hasil positif palsu terjadi ketika seseorang menerima hasil tes positif, ketika mereka seharusnya menerima hasil negatif.
Baca Juga: Apakah Wajib Rapid Test atau PCR Jika Ingin Bepergian Menggunakan Kereta Api?
-----
Teman-teman, kalau ingin tahu lebih banyak tentang sains, dongeng fantasi, cerita misteri, dan pengetahuan seru, langsung saja berlangganan majalah Bobo dan Mombi SD. Tinggal klik di https://www.gridstore.id.
Source | : | KOMPAS.com |
Penulis | : | Danastri Putri |
Editor | : | Regina Pasys |
Komentar