Find Us On Social Media :

Tsuki no Usagi, Dongeng Rakyat Jepang tentang Ketulusan Hati Kelinci Bulan #MendongenguntukCerdas

Di Jepang ada kepercayaan bahwa kelinci menjadi pelayan bagi Dewa Penjaga Bulan, legenda ini dikenal dengan cerita Tsuki no Usagi.

GridKids.id - Kembali lagi berjumpa di konten dwi mingguan GridKids yang pastinya seru dan punya banyak pesan moral dari cerita-cerita anak yang menarik. Yap, #MendongenguntukCerdas!

Kalau kalian mengikuti cerita sebelumnya, kalian pasti masih ingat dengan kisah panci bubur ajaib dan sepasang suami istri petani yang malang.

Nah, kali ini kamu akan diajak untuk mengikuti kisah legenda dari Jepang tentang Kelici di Bulan.

Bulan bagi beberapa orang di berbagai negara dianggap sebagai benda langit penuh misteri yang belum terungkap.

Di Jepang, orang-orang percaya di Bulan ada kelinci yang menetap dan bekerja menumbuk kue mochi sepanjang waktu.

Kepercayaan berasal dari dongeng rakyat Jepang yang berjudul Tsuki no Usagi (Kelinci Bulan).

Nah, penasaran kan seperti apa cerita tentang Kelinci Bulan? Yuk, simak ceritanya sama-sama di bawah ini, Kids.

Legenda Kelinci Bulan

Legenda ini berawal dari sebuah kisah pada masa lampau, diceritakan ada tiga hewan yang bersahabat yaitu kelinci, rubah, dan monyet. Ketiganya tinggal dalam hutan dan hidup rukun satu sama lainnya.

Baca Juga: Dongeng Balas Budi Burung Bangau, Mengajarkan tentang Pentingnya Menjaga Janji #MendongenguntukCerdas

Hal itu enggak lepas dari pengamatan Dewi penjaga bulan yang tertarik untuk mengetahui siapakah di antara tiga sahabat itu yang punya hati paling baik.

Karena itu sang Dewa turun ke Bumi dan menyamar sebagai pengemis tua untuk menguji ketiganya.

Sang Dewa yang menyamar mengiba dan meminta sesuatu untuk dimakan kepada ketiganya.

Ketiga sahabat yang baik hati itu lalu berusaha mencarikan makanan untuk sang pengemis tua.

Monyet dan rubah berhasil membawakan makanan sesuai kemampuannya, monyet yang pandai memanjat pepohonan membawakan buah-buahan, sedangkan rubah yang gesit berhasil membawakan seekor ikan besar untuk si pengemis tua.

Hanya kelinci yang enggak bisa menemukan apapun untuk si pengemis, kelinci enggak bisa menjangkau pohon yang tinggi, dan juga enggak bisa menangkap ikan di sungai.

Kelinci lalu meminta tolong pada kedua temannya agar dicarikan kayu bakar untuk menyalakan api.

Setelah api sudah menyala dan besar, kelinci berkata pada pengemis tua untuk memasak dagingnya lalu menyantapnya.

Hal ini dilakukan kelinci karena hewan ini sadar ia enggak bisa memberikan apapun untuk sang pengemis, namun dia juga enggak bisa membiarkan pengemis kelaparan.

Baca Juga: Dongeng Momotaro, Si Bocah Persik yang Berhasil Mengalahkan Monster Hantu #MendongenguntukCerdas

Pengorbanan Kelinci Baik Hati

Tanpa menunggu tanggapan sang pengemis, kelinci lalu melompat ke dalam api. Pengemis tua lalu membuka penyamarannya dan menyelamatkan si kelinci.

Sang Dewa penjaga Bulan berkata bahwa kelinci enggak perlu mengorbankan dirinya karena penyamarannya dilakukan untuk menguji kebaikan dan ketulusan hati hewan-hewan yang bersahabat karib ini.

Sang Dewa lalu mengajak kelinci tinggal di bulan dan menemani sang Dewa menjaga dari langit.

Sejak saat itu kelinci melayani sang Dewa dan mengawasi kondisi Bumi dari kejauhan.

Jika monyet dan rubah merindukan sahabatnya, mereka akan memandangi Bulan dan melihat sahabatnya ada di sana sedang bekerja membuat mochi untuk sang Dewa.

Dari legenda Kelinci Bulan ini kamu bisa belajar tentang pengorbanan dan ketulusan hati.

Ketika kita melakukan sesuatu atas dasar ketulusan, kita enggak akan mengharapkan balasan apapun.

Namun, kebaikan pasti akan membawa lebih banyak kebaikan, bahkan dari tempat yang enggak terduga.

 

 ----

Ayo kunjungi adjar.id dan baca artikel-artikel pelajaran untuk menunjang kegiatan belajar dan menambah pengetahuanmu. Makin pintar belajar ditemani adjar.id, dunia pelajaran anak Indonesia.