GridKids.id - Belakangan ini, istilah kidult ramai diperbincangkan, terutama di dunia media sosial.
Hmm... memang, apa itu kidult?
Kidult adalah sebuah fenomena yang tanpa kita sadari, sering ditemui pada orang dewasa di sekitar kita.
Nah, kali ini GridKids akan membahas lebih jauh tentang kidult. Mulai dari penjelasan, faktor, sampai dampaknya.
Kamu pasti pernah menemui orang dewasa yang masih suka memainkan atau mengoleksi mainan, Kids.
Mainan memang lebih identik dengan anak-anak.
Namun ternyata, enggak sedikit orang dewasa yang juga masih menikmati mainan-mainan tersebut.
Hal inilah yang disebut dengan fenomena kidult.
Agar lebih jelas, kita bahas lebih jauh tentang pengertian dari fenomena kidult ini, yuk!
Istilah kidult diambil dari kata kid yang artinya anak-anak, dan adult yang artinya dewasa.
Istilah ini pertama kali diperkenalkan Jim Ward-Nichols, seorang psikolog dari Steven Institute of Technology di New Jersey, Amerika Serikat.
Baca Juga: Fantoystic World 2022, Pameran Seru untuk Para Penggemar Mainan
Fenomena kidult banyak muncul di kalangan masyarakat urban di negara-negara maju pada tahun 1980-an.
Namun sebenarnya, fenomena ini sudah ada sejak sekitar tahun 1960.
Kidult punya nama-nama sebutan lain, misalnya fenoeman ini dikenal dengan nama Kippers di Inggris, Nesthockers di Jerman, Mammones di Perancis, dan Freeeters di Jepang.
Kidult adalah sebuah fenomena di mana seseorang yang secara umur sudah dewasa, tapi masih senang menikmati kebiasaan anak-anak atau remaja.
Misalnya saja, orang dewasa yang membeli, mengoleksi, dan memainkan mainan anak-anak.
Fenomena kidult bisa disebabkan oleh beberapa faktor, Kids, yaitu:
Hal ini terutama terjadi pada orang dewasa yang belum memiliki keluarga atau tanggung jawab terhadap orangtua.
Sehingga, mereka masih berfokus pada kesenangan dan egonya sendiri.
Sifat kidult ini enggak berhubungan dengan kecerdasan seseorang, lo. Sebab, enggak sedikit mereka yang kidult punya kecerdasan dan karir cemerlang.
Selain itu, orang dewasa yang membeli mainan anak-anak disebut sedang berusaha bernotalgia ke masa kecilnya.
Baca Juga: Sejarah Boneka, Dulu Bukan Sekadar Mainan Anak-Anak #AkuBacaAkuTahu
Keinginanan orang dewasa untuk miliki barang yang identik dengan anak-anak juga bisa dipicu karena pemenuhan keinginan yang belum terwujud.
Fenomena kidult menimbulkan sifat kekanakan pada orang dewasa, Kids.
Menurut dosen psikologi UNISA, Ibu Ratna Yunita, fenomena kidult yang berlebihan atau dilakukan secara terus-menerus bisa menimbulkan beberapa dampak.
Hal ini akan memunculkan sikap kekanakan yang membuat seseorang kurang bertanggung jawab.
Hal ini akan lebih mengkhawatirkan kalau nantinya orang tersebut sudah jadi figur ibu atau ayah.
Sebab, orang dewasa yang melakukan fenomena kidult masih memikirkan kebutuhab dirinya sendiri.
Selain itu, kebiasaan ini juga bisa menimbulkan ketergantungan. Misalnya orang dewasa yang bergantung dengan sebuah benda dari masa kecil.
Hal ini bisa menimbulkan gangguan psikologis, berupa munculnya rasa sakit sampai tak percaya diri saat benda tersebut enggak ada.
Ahli kependudukan Bernard Salt menyebutkan, fenomena Kidult mulai memengaruhi orang dewasa di atas 25 tahun.
Kebanyakan dari mereka akan menunda pernikahan serta membeli rumah, dan lebih memilih liburan keliling dunia serta membelanjakan uang tanpa rencana.
Nah, itulah penjelasan tentang fenomena kidult serta faktor yang memengaruhi dan juga dampaknya.
-----
Ayo kunjungi adjar.id dan baca artikel-artikel pelajaran untuk menunjang kegiatan belajar dan menambah pengetahuanmu. Makin pintar belajar ditemani adjar.id, dunia pelajaran anak Indonesia.
Source | : | Kompas.com |
Penulis | : | Danastri Putri |
Editor | : | Danastri Putri |
Komentar